Permasalahan seputar telur dan piyikan kenari

nesting

Penangkaran burung kenari bisa dijadikan mata pencaharian utama maupun sampingan. Namun, seperti halnya penangkaran jenis burung lainnya, diperlukan kesabaran dan keuletan dalam menjalankan usaha ini. Tidak sedikit penangkar kenari, khususnya pemula, yang akhirnya menghentikan usahanya karena merasa kesulitan melewati tahap awal, yaitu hatching dan nestling. Hatching berkaitan dengan telur dan pengeraman / penetasan telur. Adapun nestling terkait dengan piyikan atau anakan yang baru menetas.

Berikut ini beberapa masalah yang yang sering dialami pemula dalam penangkaran kenari, terutama berkaitan dengan telur dan piyik, sekaligus mendeteksi penyebabnya:

Burung tidak mau kawin / tidak mau berpasangan

Penyebab dari masalah tersebut antara lain :

Kedua induk yang dipasangkan kemungkinan berjenis kelamin sama: jantan x jantan atau betina x betina. Jadi, pastikan dulu kedua induk masing-masing jantan dan betina.
Ada kemungkinan burung belum mencapai umur dewasa kelamin, baik salah satu atau kedua induk yang dipasangkan.
Salah satu atau kedua burung belum siap mental untuk kawin. Biasanya terjadi pada burung jantan yang usianya lebih muda daripada burung betina.
Merasa takut atau tidak nyaman akibat dari gangguan dalam pencahayaan kandang, lingkungan yang bising, dan sering dilalui orang (pengaruh eksternal)
Burung mengalami masalah gizi, baik gizi buruk maupun obesitas yang berlebihan.
Burung mengalami gangguan hormonal. Bisa burung betina
Burung dalam kondisi sakit.
Burung memiliki cacat fisik atau mengalami penyakit keturunan (hereditary).
Burung mengalami gangguan dalam sistem reproduksi selain faktor hormonal
Terlalu sering dikawinkan dalam satu musim.
Jika kondisinya masih bisa diatasi, Anda bisa menggunakan solusi seperti disebutkan di atas. Tetapi pada beberapa kasus, misalnya cacat fisik, atau belum mencapai umur dewasa kelamin, solusi terbaik adalah mengganti burung bermasalah dengan burung baru.

Pastikan pula kondisi lingkungan kandang mendukung. Usahakan kandang tidak berada di ruang tertutup, dan suhu udara diusahakan relatif stabil. Di dalam kandang perlu disediakan bahan penyusun sarang agar burung terpacu untuk kawin.

+Burung sudah kawin, tapi tidak kunjung bertelur

Penyebab dari masalah tersebut antara lain :

Kemungkinan burung bukan sepasang atau sama jenis kelaminnya. Ketika keduanya terlihat rukun dan akrab, Anda mengiranya jantan dan betina, tapi ternyata berjenis kelamin sama. Silakan cek kembali artikel mengenai ciri jantan dan betina.
Gairah kawin rendah, baik induk betina, induk jantan, maupun keduanya.
Burung betina yang mengalami gangguan dalam sistem reproduksinya.
+Burung sudah bertelur, tetapi infertil

Telur Kopyor

Penyebab dari masalah tersebut antara lain :

Kualitas sel sperma burung jantan kurang baik, terutama pada burung yang baru beberapa pekan mencapai umur dewasa kelamin.
Ukuran tubuh salah satu burung terlalu besar untuk pasangannya, baik jantan maupun betinanya.
Kuku dari burung jantan mungkin terlalu panjang, sehingga menyakiti burung betina saat melakukan ritual kawin, sehingga betina selalu berontak.
Kloaka dari induk betina dan jantan tidak melekat dengan erat, akibat terhalang bulu-bulu kecil di sekitar kloaka mereka. Sebagaimana burung jantan pada umumnya, kenari tidak memiliki penis untuk mengawini betina. Saat kawin, jantan hanya menempelkan kloakanya ke kloaka betina. Saat itulah sperma pejantan masuk ke saluran reproduksi betina. Sel sperma bisa memancar dengan baik jika kloaka kedua induk saling menempel dengan rapat. Kloaka kedua burung tidak akan menempel rapat jika terlalu banyak bulu di sekitar kloaka jantan, atau betina, atau keduanya. Cobalah periksa kloaka dari kedua induk yang sudah dijodohkan. Jika banyak bulu-bulu halus, silakan pangkas hati-hati menggunakan gunting kecil.
Burung jantan yang dalam kondisi tidak sehat atau kekurangan gizi, sehingga menjadi kurang subur.
Burung dalam kondisi mabung. Solusinya ya tunggu dulu sampai selesai mabung.
+Telur fertil, tetapi gagal menetas

Penyebab dari masalah tersebut antara lain :

Ada kalanya telur yang gagal menetas adalah karena penangkar sering mengangkat burung betina dari sarangnya, atau selalu “mengganggu” betina saat mengerami telur-telurnya. Gangguan dari binatang lain seperti tikus, kucing, serangga, suara berisik (polusi suara), bau gas, atau bau yang tidak menyenangkan (polusi udara), atau adanya burung lain di sekitar sarang, juga harus dihentikan secepatnya. Khusus untuk serangga seperti kutu, nyamuk, semut, tungau maupun parasit lainnya.
Telur kurang mendapat kehangatan selama masa inkubasi (pengeraman). Bisa karena jumlah telur yang dierami terlalu banyak, atau induk sering keluar dari sarangnya.
Kulit telur retak, misalnya karena tergores kuku burung yang panjang. Celah kecil pada kulit telur sudah bisa membunuh embrio di dalamnya. Selain retak, telur juga berpotensi pecah karena gerakan spontan dari induk saat kaget atau ketakutan.
Telur yang sudah terinfeksi bakteri dari luar. Beberapa jenis bakteri seperti Salmonella dapat menembus kulit telur hingga masuk ke dalam telur.
Kesalahan dalam pemberian makanan, misalnya terlalu kering atau terlalu lembab.
Penyakit keturunan yang mempengaruhi perkembangan janin dalam telur.
+Burung sudah bertelur, tetapi telur rusak

Telur yang rusak ada kalanya disebabkan oleh keracunan gas seperti karbondioksida (CO2) maupun gas beracun lainnya seperti hydrocarbon atau chlorinated. Gas-gas ini akan menempel dalam cangkang telur dan menyebabkan kerusakan di dalam telurnya.

+Sebagian besar telur menjadi busuk

 

Telur busuk adalah proses di mana isi dari telur tersebut telah membusuk setelah masa inkubasi. Beberapa penyebab telur membusuk antara lain kurangnya masa inkubasi (pengeraman), embrio yang sudah mati di dalam telur karena terkena infeksi bakteri, kelainan genetik, ditelantarkan induk, makanan yang dikonsumsi induk kurang bergizi, dan beberapa sebab lainnya.

+Sebagian besar embrio mati di dalam telur

Sudah dijelaskan dalam poin telur gagal menetas, telur rusak, dan telur busuk.

+Anakan tidak bisa keluar dari cangkang telur

Penyebab dari masalah tersebut antara lain :

Kulit telur yang terlalu kering. Suhu rendah bisa menghambat penetasan. Anakan yang siap menetas tapi dalam kondisi lemah jelas tidak dapat meretakkan cangkang telur dan keluar pada waktunya, terutama jika cangkang terlalu tebal atau padat. Di sinilah Anda bisa memberikan bantuan dengan memecah cangkang telur, tapi harus hati-hati.
Adanya infeksi dan kekurangan gizi pada induknya.
Kepala anakan terjebak di bawah sayap kirinya, sehingga tidak bisa bergerak untuk menghancurkan kulit telurnya, dan akhirnya mati sebelum keluar dari telur.
Hal yang sama juga dialami oleh anakan yang kakinya berada di atas kepalany
+Anakan lemah atau mati di dalam sarang

blackspot

Penyebab dari masalah tersebut antara lain :

Kematian anakan bisa terjadi akibat kelalaian dari induknya, terutama induk muda yang masih belum berpengalaman.
Induk betina terkena penyakit atau mengalami sakit sehingga tidak merawat anak-anaknya sebagaimana mestinya.
Kesalahan dalam pemberian pakan
Infeksi karena penyakit akibat kurang terjaganya kebersihan sarang.
Itulah beberapa faktor penting yang sangat berpengaruh terhadap keberhasilan penangkaran burung kenari, terutama pada tahap hatching dan nestling. Tapi jangan pernah pantang menyerah, bahkan penangkar yang sudah berpengalaman pun terkadang mengalami berbagai masalah

One response to “Permasalahan seputar telur dan piyikan kenari

  1. Mau tanya sudah hampir 20 hari telur kenari belum menetas juga,padahal ϑί eremin trs sama indukan nya.apa yg harus saya perbuat.terimakasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s